Search blog.co.uk

Chairil Anwar

by Oikawa @ 2007-09-08 - 09:13:27

DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943


 
 

Menunggu Hujan

by Oikawa @ 2007-09-08 - 09:03:24

Aulia berdiri menatap langit yang tampak berawan. Tangan kirinya bersandar di pagar teras lantai 2 rumahnya.
Agar dapat memandang hujan dengan lebih jelas…
Begitulah alasan Aulia ketika ditanya kenapa setiap musim penghujan dirinya selalu berdiri di teras lantai 2 rumahnya.
Sore inipun tidak berbeda dengan hari- hari sebelumnya. Aulia berdiri menghadap ke awan hitam yang menggantung di langit. Belum pernah ada orang yang sebegitu tertariknya dengan awan hitam dan kelabu hingga rela menghabiskan waktu berjam- jam untuk berdiri memandangi awan hitam dengan tatapan berbinar- binar. Angin berhembus semakin kencang dan membawa gerombolan awan hitam yang sedang dipandang Aulia bergerak ke Selatan. Dari arah yang berlawanan, terdengar bunyi guruh yang menggelegar. Tampak kilat berwarna biru cerah seolah membelah langit menjadi dua.
Tetapi pemandangan yang menurut kebanyakan orang menakutkan itu tidak membuat hati Aulia tergerak untuk masuk ke dalam rumah. Tangan kanannya masih erat menggenggam ponsel, asyik menulis sebuah pesan singkat lewat ponselnya.
Hai..gmn kabrmu? D sn hjan..Ingt kn ktika qta pertm kli brtmu? Wktu it jg tngh hjan drs sprti ini.
Begitu tulisnya.
***
Guntur memandangi gadis berkulit putih yang berdiri di teras lantai 2. Sudah 3 hari ini Guntur melihat perempuan berambut lurus legam itu menerawang ke langit yang begitu pekat. Tatapannya selalu kosong, mengikuti gerak awan hitam yang berlarian tertiup angin.
Keadaan gadis itu sama dengan hari- hari sebelumnya. Selalu tersenyum tatkala menatap layar ponsel. Tidak takut angin kencang dan hujan deras, apalagi guruh dan kilat yang menyambar- nyambar.
“Hai…” akhirnya Guntur tidak tahan hanya mengamati gadis yang selalu menikmati memandang hujan yang mengguyur bumi itu.
Si gadis mengalihkan pandangannya dari layar ponsel dan mulai mengamati Guntur, “Hai juga…” sapanya lembut sambil tersenyum.
Saat itu Guntur baru menyadari kalau gadis itu…manis. Memiliki senyum menawan dan juga lesung pipit yang membuatnya terlihat semakin cantik.
“Sedang apa?” tanya Guntur penasaran. Ingin sekali dia bertanya Kenapa gadis secantik kamu tiap hari hanya menatap awan mendung dengan tatapan kosong. Tetapi mengingat dia belum begitu kenal dengan gadis itu, maka Guntur mengurungkan niatnya.
“Menunggu hujan.” Jawab gadis itu singkat sambil terus menatap awan hitam dengan tatapan kosong.
Guntur mengernyit tidak mengerti, “Menunggu hujan?” ulangnya.
Tetapi si gadis hanya mengangguk pelan. Sorot mata kosongnya berubah menjadi berkilauan ketika titik- titik air hujan mulai berjatuhan membasahi bumi. Dengan sigap gadis itu menekan keypad ponselnya dan mulai mengetik sebuah pesan singkat…
“Akhirnya hujan yang ditunggu- tunggu datang juga.” Celoteh Guntur jengkel. Guntur berlari- lari kecil menuju ke rumah Bibinya yang terpaut lima rumah dari rumah Aulia sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.
***
Sore itu, Guntur menyengaja keluar rumah. Angin dan kilat yang diiringi hujan deras tidak membuat tekadnya goyah. Jika benar gadis itu sedang menunggu hujan, pasti sore ini dia akan berdiri lagi di lantai 2 dengan tatapan yang sama seperti hari- hari sebelumnya.
“Hai…” suara Guntur memecah tetes- tetes air hujan yang jatuh menabrak genting. “Ternyata memang benar kamu di situ.”
“Kamu lagi…”
“Mau buah? Apel merah?” tawar Guntur tiba- tiba.
Aulia memandangi Guntur dengan tatapan tidak percaya. Sekalipun belum pernah dia bercakap- cakap banyak dengan pemuda itu. Jangankan bercakap- cakap, bertegur sapa saja jarang.
“Kamu tidak merayuku kan?” selidik Aulia.
Guntur menggelengkan kepala. Dia sengaja melakukan itu. Sebuah adegan yang ada di salah satu film kesukaannya, “Cuma ingin melamar kamu…” goda Guntur setengah serius. “Ngomong- omong, aku belum tahu namamu. Boleh tahu nggak?”
“Aulia…”
“Aku Guntur…” Guntur agak berteriak karena suaranya menyatu dengan suara hujan yang semakin deras.
“Seperti hujan…” timpal Aulia.
Guntur mengerutkan kening tidak mengerti dengan maksud dari kalimat yang dikeluarkan oleh Aulia. Dengan hati penuh tanda tanya, Guntur beranjak meninggalkan kediaman Aulia.
Aulia menatap punggung Guntur yang semakin menjauh dan tertutup oleh air hujan yang semakin lebat.
Sekelebat bayangan tentang kejadian 2 tahun lalu terbayang lagi di benak Aulia…
Waktu itu seperti sore ini, hujan begitu deras dan lebat. Aulia tengah melamun di lantai dua seperti biasanya. Menikmati bau udara segar menjelang hujan turun adalah kegemarannya sejak dulu, hingga ada laki- laki asing yang lewat di depan rumahnya.
Laki- laki itu menatap Aulia dengan tatapan aneh. Baru kali ini dia melihat ada gadis yang begitu bahagia melihat hujan. Padahal selama yang dia tahu, hujan adalah musuh bagi orang- orang semuruannya. Karena hujan kencan batal, karena hujan tidak bisa lihat konser, dan banyak hal lain yang kacau hanya gara- gara hujan.
“Mau buah? Apel merah?” tanya laki- laki itu membuyarkan lamunan Aulia.
Aulia bengong cukup lama. Dia sama sekali belum mengenal laki- laki asing itu.
“Aku sekedar lewat kok. Kenalin, namaku Tirta.” Lanjut laki- laki itu tanpa basa- basi dengan sebias senyum di wajahnya. “Pasti lagi mikir gini Kok aku belum pernah tahu sebelumnya? Gini ya Non, aku dari luar kota. Ehm, maksudku baru pindah ke sini dua hari lalu.” Tirta nyerocos tanpa titik koma. Begitu PD, padahal Aulia sama sekali belum bertanya mengenai asal- muasal laki- laki yang kePD an itu.
“Kamu? Maksudku boleh tahu namamu?” tanya Tirta lagi.
“Aulia…”
“Nama yang bagus.” Puji Tirta sok tahu dan berlebihan hingga membuat Aulia salting. “Oke deh, udah gelap nih. Aku mau pulang dulu….” Tirta membalikkan badannya. “See you tomorrow!” ungkapnya sambil melambaikan tangan dan kiss bye.
Aulia tersenyum geli melihat tingkah cowok konyol itu. Tangan Aulia bergerak perlahan membalas lambaian tangan Tirta yang mulai menjauh.
***
Bibi Guntur menatap Guntur dengan tatapan heran. Rambut Guntur basah kuyup ketika masuk ke dalam rumah. Cucuran air hujan jatuh menetes dari bajunya. Dia heran karena keponakannya yang anti air hujan itu sampai berbasah- basah ria seperti itu.
“Tenang saja, Bi. Guntur nggak apa- apa kok.” Jelasnya meyakinkan kalau dia baik- baik saja.
Tapi wanita berambut sebahu itu tetap penasaran. Apalagi bibir Guntur terkatup rapat sambil menggigil kedinginan. Padahal di rumah ada 5 payung dan 10 jas hujan yang tidak terpakai.
“Kamu dari mana?” tanyanya lembut.
“Jalan- jalan…” Guntur masuk ke kamar mandi sambil mengelap rambutnya dengan handuk berwarna abu- abu. “Bi, kenal Aulia?”
“Anak tetangga sebelah yang seumuran dengan kamu?”
“Jadi Bibi kenal?” Guntur girang dan berteriak lebih kencang dari dalam kamar mandi. “Anaknya gimana, Bi?”
Bibi Guntur diam sejenak, mencoba mengingat apapun yang ada di memorinya tentang anak gadis tetangganya itu, “Anaknya cantik. Kelihatannya baik. Tapi Bibi kurang kenal sama dia, soalnya dia jarang keluar rumah dan pendiam banget. Ditambah lagi kerjaannya sehari- hari hanya memandangi langit menjelang hujan.” Bibi Guntur diam sejenak menghela nafas. “Kenapa emang?”
Guntur diam, melamun. Benaknya dipenuhi dengan bayangan Aulia dan hujan yang selalu dia nanti- nanti. Bahkan pertanyaan Bibinya pun melayang pergi dari telinganya begitu saja.
Ada apa sebenarnya dengan hujan?
***
“Hai…..” seperti biasa Guntur selalu bela- belain hujan- hujan di sore hari. Padahal hari itu keadaan Guntur sudah sangat buruk. Dari kedua lubang hidungnya keluar terus ingus bening. Tenggorokan Guntur sakit dan terasa mengganjal. Badannyapun suhunya juga agak naik. Ditambah lagi kepalanya juga agak puyeng.
Tadi sebelum berangkat, Bibinya sempat ngedumel, “Guntur, kamu masih sakit! Pakai payung, atau bawa saja mobil Bibi…”
“Tenang, Bi…Guntur akan jaga diri.” Begitu jawab Guntur.
Aulia segera turun dari lantai dua dan ikut berhujan- hujan menyambut kedatangan Guntur, “Apa kabar?” tanyanya tetap dengan senyum yang lembut dan menawan. Tangan kanannya masih tetap menggenggam ponsel. Aulia tidak peduli dengan hujan yang terus turun itu.
“Kenapa sih selalu bawa ponsel? Sayang banget kalau kena air hujan. Kan bisa rusak.” Tegur Guntur.
Aulia lagi- lagi hanya tersenyum sambil menyodorkan ponselnya pada Guntur, “Mau lihat?”
Tangan Guntur meraih ponsel berwarna biru laut itu. Gila! Di layarnya tertulis 100 pesan yang belum terbaca. Guntur memandang Aulia dengan tatapan tidak percaya, “Maniak SMS ya?” tatapan Guntur tampak ngeri.
“Baca saja…” Aulia menundukkan kepala. Seperti ingin menumpahkan semua yang ada di kepalanya saat itu juga.
Guntur membaca SMS itu satu persatu. Perasaannya jadi tidak karuan. Apalagi ketika melihat kalau SMS itu tertuju untuk satu nama. Apakah ini yang rasanya jealous? 100 SMS dikirimkan untuk nomor sama dan nama yang sama pula. Itu bukan SMS, tapi hanya laporan SMS saja. Dan SMS- SMS itu untuk Tirta. Tak ada satupun dari SMS itu yang terkirim, semuanya pending dan failed.
“Namanya Tirta. Aku kenal dia 2 tahun lalu. Persis seperti pertama kali aku kenal kamu…”
“Mantan pacarmu…?” Guntur tidak sabar. Dia berharap kalau Aulia akan menganggukkan kepala.
Tapi nyatanya, Aulia menggeleng. Hati Guntur semakin ciut. Apalagi ketika Aulia bilang, “Dia pacarku…” katanya lemas. “Tapi setahun lalu….”
Guntur menunggu kalimat macam apa yang akan keluar dari mulut Aulia.
“Dia dinyatakan tewas ketika melakukan pendakian ketika hujan turun. Padahal dia berjanji akan membwakan aku bunga edelweis. Tapi nyatanya….” Aulia terisak. “Tiap hari aku menatap hujan, menunggunya ketika hujan turun, menantinya di lantai dua…tapi sampai sekarang dia tidak datang dan tidak akan pernah datang. Tetapi aku tidak marah. Aku akan terus menunggunya datang bersama hujan yang turun….”
Hati Guntur bergetar. Gadis yang memiliki senyum manis dan lesung pipit itu ternyata sedang tercabik- cabik hatinya. Menunggu sesuatu yang tidak pasti, melakukan perbuatan yang sia- sia. Ternyata dia tidak mengamati hujan, melainkan menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang.
“Aku tidak bisa membenci hujan. Tirta berjanji padaku untuk datang bersama hujan. Tirta juga berpesan padaku agar aku tidak membenci hujan. Hujan itu adalah anugrah….” Cermin mata Aulia yang biasanya cerah tampak nelangsa dan nanar.
Hujan…apakah aku harus mencintai hujan seperti Aulia…
END

Gibran

by Oikawa @ 2007-09-08 - 01:08:24

"Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia akan melihat sekitarnya dan akan melihat sahabat-sahabatnya datang dan menghiburnya... Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan kedamaiannya, dimanakah dia akan menemukannya, bagaimanakah dia akan bisa memperolehnya kembali?" (Kahlil Gibran)

Footer

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.